Friday, 2 January 2026

Skenario Akhir Kebuntuan Politik Yaman

Ketegangan antara faksi-faksi utama di Yaman kini bergerak menuju titik krusial yang dapat menentukan arah negara itu dalam beberapa tahun ke depan. Hubungan yang memburuk antara Dewan Kepemimpinan Kepresidenan, Dewan Transisi Selatan, serta para aktor regional pendukungnya telah mengubah konflik dari sekadar medan perang menjadi pertarungan terbuka soal legitimasi, kekuasaan, dan masa depan negara.

Di tengah tarik-menarik tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah Yaman akan bergerak menuju konsolidasi kekuasaan di bawah satu otoritas, atau justru terperosok lebih dalam ke fragmentasi permanen. Pilihan-pilihan politik yang diambil hari ini—terutama oleh aktor bersenjata di lapangan dan para sponsor regional—akan menentukan apakah kebuntuan saat ini menjadi jalan menuju kompromi, atau awal dari fase konflik yang sama sekali baru.

Skenario

Berikut gambaran realistis skenarionya jika ketegangan ini berlanjut, disusun secara dingin dan struktural, bukan spekulatif berlebihan.

Jika empat anggota PLC yang dikenal pro-UEA benar-benar dikeluarkan, dampaknya akan sangat besar namun tidak otomatis menstabilkan Yaman. Secara politik, PLC akan kehilangan klaim sebagai “dewan inklusif”, tetapi secara praktis ia justru menjadi lebih homogen dan mudah dikendalikan Saudi. Riyadh bisa mengonsolidasikan PLC sebagai representasi tunggal negara Yaman, lalu menggunakannya untuk membuka kesepakatan resmi dengan Houthi tanpa harus terus bernegosiasi dengan aktor selatan. STC dalam skenario ini akan terdorong keluar dari proses politik nasional dan bergerak makin terang sebagai entitas separatis de facto, bukan lagi bagian dari struktur negara.

Jika mereka tidak dikeluarkan tetapi tetap membangkang, maka PLC akan lumpuh secara fungsional. Keputusan strategis—keamanan, anggaran, negosiasi—akan terus diveto secara internal. Ini adalah skenario paling berbahaya karena menciptakan negara “hidup tapi tidak berfungsi”. Saudi dalam kondisi ini biasanya tidak menunggu terlalu lama: dukungan finansial dan logistik akan disalurkan hanya kepada aktor yang patuh, sementara faksi pembangkang dibiarkan kehabisan sumber daya. Bukan pengusiran formal, tetapi pengeringan perlahan.

Jika STC tetap berada di lapangan dan menolak mundur, kenyataannya mereka memang sulit disingkirkan secara militer tanpa perang besar di Aden. Namun bertahan di lapangan tidak sama dengan menang. STC bisa menguasai wilayah, bandara, dan pelabuhan, tetapi tanpa pengakuan internasional dan tanpa arus dana stabil, mereka akan menghadapi krisis pemerintahan: gaji macet, layanan publik runtuh, dan fragmentasi internal. Dalam sejarah konflik modern, banyak entitas de facto runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena gagal membayar loyalitas.

Apakah situasi ini akan buntu selamanya? Hampir pasti tidak. Konflik seperti ini jarang statis; ia bergerak menuju salah satu dari tiga ujung. Pertama, konsolidasi PLC dengan dukungan Saudi dan kesepakatan dengan Houthi, yang akan mengisolasi STC. Kedua, formalnya pemisahan selatan jika STC berhasil mengamankan pengakuan eksternal—ini sulit tanpa restu Saudi. Ketiga, kompromi paksa, di mana STC dipaksa kembali ke meja perundingan dari posisi lebih lemah setelah tekanan ekonomi dan politik meningkat.

Intinya, waktu bukan netral. Jika STC menantang Saudi terlalu lama, waktu justru bekerja melawan mereka, karena Saudi memiliki cadangan strategis, kontrol legitimasi, dan opsi diplomatik yang jauh lebih luas. Kebuntuan bisa berlangsung lama, tetapi ujungnya hampir selalu ditentukan oleh siapa yang menguasai legitimasi, uang, dan akses internasional—bukan sekadar siapa yang menguasai jalan dan bandara.

Admin

PKBM & KataBijak

PKBM Kata Bijak adalah sekolah alternatif untuk menaungi mereka yang tidak mampu. Bagian dari Sultan Group, kami dapat dihubungi di: +6281284179400 atau email: redaksi.dekho@gmail.com

0 comments:

Post a Comment