Raqqa, Suriah – Kota yang sempat berada di bawah kendali SDF kini menghadapi tantangan baru di sektor pendidikan. Para guru yang pernah mengabdi di era Assad maupun era SDF sama-sama menuntut pengakuan profesional mereka. Situasi ini memunculkan dilema bagi pemerintah pusat dalam menentukan kebijakan pengangkatan kembali tenaga pengajar.
Video terbaru yang beredar menunjukkan puluhan guru turun ke jalan, menyuarakan hak-hak mereka yang selama ini dianggap diabaikan. Aksi ini berlangsung di pusat kota Raqqa, dengan spanduk dan poster yang menuntut keputusan resmi dari pemerintah.
Salah satu isu utama adalah status pekerjaan guru. Mereka menekankan perlunya keputusan formal agar bisa kembali mengajar di sekolah-sekolah pasca hengkangnya SDF. Para guru menilai pengakuan resmi ini penting untuk memastikan kelangsungan pendidikan di kota yang baru pulih dari konflik.
Para guru juga menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan yang terjadi. Mereka membandingkan nasib mereka dengan guru era Assad yang tetap menerima gaji meskipun beberapa tahun tidak mengajar. Hal ini memicu kekecewaan karena guru yang bertahan dan membuka kembali sekolah di Raqqa merasa diabaikan.
Kebutuhan ekonomi menjadi alasan mendasar para pengunjuk rasa. Dengan Ramadan dan Idul Fitri yang akan datang, gaji menjadi kebutuhan vital untuk menghidupi keluarga dan anak-anak mereka. Banyak guru menegaskan bahwa pekerjaan mereka bukan sekadar profesi, tetapi sumber penghidupan.
Identitas sebagai pendidik menjadi sorotan terakhir dalam aksi tersebut. Para guru menegaskan bahwa mereka adalah guru bangsa yang berhak atas pengakuan profesional. Pernyataan ini diulang berkali-kali sebagai simbol persatuan mereka dalam tuntutan tersebut.
Pemerintah Suriah dihadapkan pada dilema sulit. Di satu sisi, guru dari era Assad memiliki hak historis dan pengalaman panjang. Di sisi lain, guru yang diangkat selama era SDF juga berharap diakui, karena telah menjaga jalannya pendidikan selama konflik.
Jika semua guru diangkat kembali tanpa pertimbangan, kemungkinan besar akan terjadi kelebihan tenaga pengajar. Hal ini bisa menimbulkan masalah logistik, termasuk distribusi gaji dan penempatan di sekolah-sekolah yang belum tentu membutuhkan semua guru.
Ahli pendidikan menyarankan agar pemerintah menerapkan sistem evaluasi kinerja. Guru yang terbukti berkontribusi aktif selama masa sulit bisa mendapatkan prioritas pengangkatan kembali. Pendekatan ini dianggap lebih adil dan berbasis bukti.
Selain evaluasi, pemerintah juga bisa mempertimbangkan sistem rotasi dan pengurangan jam mengajar. Dengan cara ini, guru dari kedua era tetap bisa bekerja tanpa terjadi penumpukan tenaga di sekolah tertentu.
Beberapa sumber menyebut pemerintah pusat sudah membentuk tim untuk meninjau kasus ini. Tim tersebut bertugas menilai pengalaman, kontribusi, dan kebutuhan tiap sekolah sebelum mengeluarkan keputusan resmi.
Namun, hingga saat ini, keputusan formal belum diumumkan. Ketiadaan kebijakan jelas menyebabkan ketidakpastian bagi guru, yang pada gilirannya memicu protes di jalanan.
Sementara itu, orang tua murid menyatakan kekhawatiran mereka. Mereka berharap agar kebijakan pemerintah cepat ditetapkan agar proses belajar mengajar tidak terganggu. Murid-murid, terutama di sekolah dasar, menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakpastian ini.
Pemerintah juga menghadapi tekanan dari komunitas lokal dan organisasi pendidikan internasional. Mereka menekankan pentingnya menjaga kontinuitas pendidikan demi stabilitas sosial di Raqqa yang baru pulih dari konflik.
Beberapa guru dari era SDF menyarankan adanya integrasi sistem pendidikan. Mereka menekankan bahwa pengalaman mereka di masa lalu tidak bisa diabaikan, karena telah berperan penting dalam menjaga sekolah tetap berfungsi selama konflik.
Di sisi lain, guru era Assad menegaskan bahwa mereka memiliki hak historis dan profesional. Mereka menuntut agar pengalaman panjang mereka dihargai dalam setiap keputusan pengangkatan.
Krisis ini menunjukkan kompleksitas rekonstruksi pasca-konflik. Selain membangun infrastruktur fisik, pemerintah juga harus menyeimbangkan hak dan kepentingan tenaga profesional di bidang pendidikan.
Pengamat politik lokal menyebut kasus guru Raqqa sebagai cerminan tantangan lebih luas bagi Suriah. Integrasi guru dari berbagai era menjadi simbol rekonsiliasi nasional yang perlu dikelola dengan hati-hati.
Beberapa praktisi pendidikan menekankan pentingnya komunikasi. Pemerintah disarankan melakukan dialog terbuka dengan guru, siswa, dan komunitas agar kebijakan yang diambil dapat diterima semua pihak.
Hingga kini, guru-guru Raqqa tetap berada di jalanan, menuntut kepastian dan pengakuan. Mereka menegaskan bahwa pendidikan adalah hak anak-anak dan tanggung jawab negara.
Sementara itu, pemerintah Suriah berada pada titik kritis. Keputusan yang diambil akan menentukan arah pendidikan pasca-konflik di Raqqa, serta mencerminkan kemampuan negara dalam menyeimbangkan hak-hak profesional dan kebutuhan masyarakat.





